Asma, Penyebab Dan Gejala Serta Pengobatannya

Penyakit asma harus dikendalikan dalam jangka panjang karena memang bisa dikendalikan asal ada kemauan dan usaha dari para penderitanya. Paru-paru adalah organ pada sistem pernapasan (respirasi) dan berhubungan dengan sistem peredaran darah (sirkulasi) vertebrata dengan pernapasan. Fungsinya adalah untuk pertukaran oksigen dari udara dengan karbon dioksida dari darah. Proses ini disebut “pernapasan eksternal” atau bernapas.

Paru-paru juga memiliki fungsi nonrespirasi. Istilah medis yang berkaitan dengan paru-paru sering mulai di paru-paru, dari kata Latin untuk pulmones paru-paru. Saluran napas manusia bermula dari mulut dan hidung, lalu bersatu di daerah leher menjadi trakea (tenggorok) yang akan masuk ke paru. Di dalam paru, satu saluran napas trakea itu akan bercabang dua, satu ke paru kiri dan satu lagi ke paru kanan.

Setelah itu, masing-masing akan bercabang-cabang lagi, makin lama tentu makin kecil sampai 23 kali dan berujung di alveoli tempat terjadi pertukaran gas, oksigen (O 2) masuk ke pembuluh darah dan karbon dioksida (CO 2) dikeluarkan. Nah, berikut penjelasan mengenai asma.

Pengertian Asma

Asma adalah suatu keadaan yang mempengaruhi saluran udara, menyebabkan otot saluran udara berkontraksi dan menyempit, menjadi meradang atau memproduksi lendir. Asma dalam bahasa Yunani “asthma” adalah jenis penyakit jangka panjang atau kronis pada saluran pernapasan yang ditandai dengan peradangan dan penyempitan saluran napas yang menimbulkan sesak atau sulit bernapas.

Bagi seseorang yang memiliki penyakit asma, saluran pernapasannya lebih sensitif dibandingkan orang lain yang tidak hidup dengan kondisi ini. Ketika paru-paru teriritasi pemicu di atas, maka otot-otot saluran pernapasan penderita asma akan menjadi kaku dan membuat saluran tersebut menyempit. Selain itu, akan terjadi peningkatan produksi dahak yang menjadikan bernapas makin sulit dilakukan.

Asma mempengaruhi orang-orang dari segala usia, tetapi paling sering dimulai selama masa kanak-kanak. Tingkat keparahan dan frekuensi penyakit asma bervariasi dari orang ke orang. Dalam sebuah individu, mereka mungkin terjadi dari jam ke jam atau hari ke hari. Para ahli sepakat bahwa penyakit asma merupakan penyakit kronis yang perlu dipantau dan dikendalikan seumur hidup. Siapapun orang bisa menderita penyakit asma, meskipun biasanya pertama kali didiagnosis adalah orang muda atau anak-anak.

Penyebab Asma

Faktor penyebab penyakit asma penting diketahui agar Anda dapat mencegah supaya tidak menderita penyakit asma atau dapat menghindari terjadinya serangan asma berulang bagi Anda yang memang mempunyai riwayat penyakit asma. Memang ada faktor yang dapat diubah dan tidak dapat diubah. Faktor yang tidak dapat diubah yaitu faktor genetik. Namun dengan mengendalikan faktor lainnya maka faktor genetik ini nantinya dapat ditekan sehingga menjadi tidak dominan. Beberapa faktor yang menjadi penyebab asma yaitu sebagai berikut:

  • Faktor keturunan

Dalam setiap penyakit terutama jenis penyakit kronis tidak menular biasanya faktor keturunan atau genetik memiliki andil untuk menyebabkan suatu penyakit, termasuk asma. Tetapi besarnya andil untuk menjadi penyebab asma tentunya berbeda-beda antara orang yang satu dengan yang lain, tergantung besarnya kekuatan genetik yang diturunkan dari generasi sebelumnya.

Jadi jika orang tua atau kakek nenek Anda mempunyai riwayat penyakit asma, maka Anda mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk menderita asma daripada orang yang tidak ada riwayat penyakit asma sama sekali di keluarganya. Faktor genetik ini biasanya berpengaruh terhadap reaksi autoimun tubuh, di mana pada penderita asma memiliki saluran pernafasan yang sangat sensitif terhadap lingkungan atau paparan zat-zat tertentu.

  • Polusi Udara

Lingkungan yang tercemar atau polusi udara juga dapat menjadi penyebab asma. Polusi udara dapat berupa asap yang dihasilkan dari kendaraan bermotor, asap pabrik, asap pembakaran sampah atau kebakaran hutan, serta banyaknya debu yang beterbangan. Polusi udara ini dapat mengkontaminasi ketika Anda keluar rumah maupun di dalam rumah.

Rumah atau kamar yang jarang dibersihkan dapat menghasilkan polusi berupa debu yang mudah sekali untuk memicu timbulnya asma. Polusi udara ini bersifat iritan sehingga jika dihirup maka saluran pernafasan akan menjadi sensitif dan menyempit sehingga berisiko menyebabkan asma.

  • Infeksi Pada Paru-paru

Terjadinya infeksi pada paru-paru juga dapat menjadi penyebab asma. Hal ini biasanya terjadi karena efek sekunder akibat proses infeksi di paru-paru. Yang paling sering berkaitan dengan asma yaitu terjadinya radang di daerah bronkhus, atau yang sering disebut sebagai bronkhitis. Jadi walaupun asma tidak menular, Anda perlu waspada untuk menghindari penularan penyakit infeksi pada area sekitar paru-paru karena dapat berisiko menimbulkan efek sekunder berupa penyempitan saluran pernafasan atau asma.

  • Alergi Makanan

Beberapa makanan dapat menimbulkan reaksi alergi terhadap pernafasan sehingga memicu timbulnya asma. Makanan pencetus alergi ini tentunya dapat berbeda-beda antara orang yang satu dengan yang lain. Makanan yang sering menimbulkan alergi dan menyebabkan asma antara lain yaitu seafood, telur, kacang tanah, coklat, susu sapi, susu kedelai, makanan yang mengandung bahan pengawet, dan sebagainya. Jika Anda mempunyai riwayat penyakit asma maka sebaiknya kenali jenis makanan apa saja yang dapat menjadi penyebab asma pada diri Anda.

  • Paparan Zat Kimia

Penyebab asma yang berikutnya yaitu karena paparan zat-zat kimia tertentu. Zat-zat tersebut biasanya ada pada benda atau barang-barang sekitar kita dan dapat menimbulkan reaksi alergi jika baunya terhirup ke saluran pernafasan sehingga menimbulkan asma. Zat-zat kimia tersebut antara lain yaitu terdapat pada karet, logam, obat nyamuk bakar/semprot, parfum, deodoran, detergen, cat dinding, dan sebagainya. Konsumsi obat-obatan tertentu ternyata juga dapat menimbulkan efek samping berupa sesak nafas atau asma. Oleh karena itu jika mengkonsumsi obat-obatan sebaiknya sesuai dengan resep dokter dan aturan pakainya.

  • Rokok

Rokok mengandung zat-zat berbahaya yang dapat mengakibatkan berbagai penyakit, termasuk asma. Kandungan asap rokok terutama nikotin jika masuk ke saluran pernafasan selain merusak paru-paru juga dapat mengiritasi saluran pernafasan. Baik perokok aktif maupun perokok pasif, keduanya sama-sama untuk berisiko terkena asma.

  • Stres

Hati-hati jika Anda menyimpan terlalu banyak beban pikiran hingga mengalami stres. Sebab stres juga dapat menjadi penyebab asma. Oleh karena itu kelola pikiran Anda agar selalu tenang dan damai agar terhindar dari stres. Selain itu atur waktu dengan baik agar pekerjaan tidak menumpuk. Sebab beban pekerjaan yang menumpuk juga berisiko tinggi untuk menimbulkan stres

Komplikasi Asma

Berikut ini adalah dampak akibat penyakit asma yang bisa saja terjadi:

  1. Masalah psikologis (cemas, stres, atau depresi).
  2. Menurunnya performa di sekolah atau di pekerjaan.
  3. Tubuh sering terasa lelah.
  4. Gangguan pertumbuhan dan pubertas pada anak-anak.
  5. Status asmatikus (kondisi asma parah yang tidak respon dengan terapi normal).
  6. Pneumonia.
  7. Gagal pernapasan.
  8. Kerusakan pada sebagian atau seluruh paru-paru.
  9. Kematian.

Saat gejala asma muncul, saluran pernapasan akan menyempit dan otot-otot di sekitar saluran tersebut mengencang. Selain itu, ada peningkatan peradangan pada lapisan saluran pernapasan dan produksi dahak yang makin menambah penyempitan pada saluran pernapasan. Dengan menyempitnya bagian-bagian dari saluran pernapasan, maka udara akan lebih sulit mengalir dan penderita menjadi makin sulit bernapas.

Gejala Asma

Asma ditandai dengan adanya episode berulang dari mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk.Dahak bisa saja terbentuk di paru-paru karena batuk tetapi sulit untuk dikeluarkan. Nah, untuk itu ada baiknya mengetahui beberapa gejala dari penyakit ini.

Gejala Asma Awal

Secara umum, tanda-tanda ini tidak cukup parah untuk menghentikan pasien beraktivitas dalam kegiatan sehari-hari. Tapi, dengan mengenali tanda-tanda ini, penderita dapat menghentikan serangan asma atau mencegah agar tidak semakin buruk. Tanda-tanda ini dapat menjadi peringatan dini yang meliputi:

  1. Sering batuk, terutama pada malam hari.
  2. Sulit bernapas atau Sesak napas.
  3. Merasa sangat lelah atau lemah saat berolahraga.
  4. Mengi atau batuk setelah latihan.
  5. Merasa mudah lelah, kesal, atau murung.
  6. Adanya penurunan fungsi paru-paru yang diukur dengan peakflowmeter, dengan cara meniupkan napas sekuat-kuatnya pada alat tersebut.
  7. Tanda-tanda flu, atau alergi (bersin, pilek, batuk, hidung tersumbat, sakit tenggorokan dan sakit kepala).
  8. Sulit tidur.

Jika terdapat gejala tersebut, kenali sebagai tanda-tanda peringatan awal gejala asma.

Serangan asma adalah episode di mana otot yang mengelilingi saluran udara dipicu untuk mengencang, Pengencangan otot napas ini disebut bronkospasme. Selama serangan itu, lapisan saluran udara menjadi bengkak atau meradang dan sel-sel yang melapisi saluran udara menghasilkan lebih banyak lendir lebih dari biasanya.

Bronkospasme, peradangan dan produksi lendir merupakan penyebab gejala asma seperti kesulitan bernapas, mengi, batuk, sesak napas dan kesulitan melakukan aktivitas normal sehari-hari. Gejala lain dari serangan asma meliputi:

  1. Mengi parah ketika bernapas baik ketika tarik napas maupun mengeluarkan napas.
  2. Batuk yang tidak akan berhenti.
  3. Pernapasan sangat cepat.
  4. Nyeri dada atau tekanan.
  5. Tarikan otot bantu pernapasan seperti otot leher, otot dada, dan tulang rusuk yang tampak naik turun akibat upaya napas yang berlebih.
  6. Kesulitan berbicara.
  7. Perasaan cemas atau panik.
  8. Pucat, wajah berkeringat dingin.
  9. Bibir biru atau kuku menjadi biru, yang dikenal dalam medis sebagai sianosis.

Jika seseorang terdiagnosis mengidap asma saat kanak-kanak, gejalanya mungkin bisa menghilang ketika dia remaja dan muncul kembali saat usianya lebih dewasa. Namun gejala asma yang tergolong menengah atau berat di masa kanak-kanak, akan cenderung tetap ada walau bisa juga muncul kembali.Kendati begitu, asma bisa muncul di usia berapa pun dan tidak selalu berawal dari masa kanak-kanak. Lalu adakah pengobatan yang baik dilakukan?

Pengobatan Asma

Tujuan pengobatan asma adalah mengendalikan gejala dan mencegah timbulnya kembali serangan. Bagi sebagian besar penderita asma, obat-obatan dan metode pengobatan yang ada saat ini sudah terbukti efektif dalam menjaga agar gejala asma tetap terkontrol.

Untuk mendapatkan hasil yang efektif, dokter perlu menyesuaikan pengobatan dengan gejala-gejala asma yang muncul. Selain itu, pasien juga harus menjalani pemeriksaan secara rutin (minimal sekali dalam setahun) untuk memastikan pengobatannya cocok dan penyakit asma telah berada dalam kendali. Terkadang pasien membutuhkan tingkat pengobatan yang lebih tinggi pada jangka waktu tertentu.

Penting bagi pasien untuk mengenali hal-hal yang dapat memicu asma mereka agar dapat menghindarinya. Jika gejala asma muncul, obat yang umum direkomendasikan adalah inhaler pereda. Inhaler merupakan obat semprot yang dihirup melalui mulut. Cara pakainya juga tidak mudah. Diperlukan latihan berulang dan edukasi yang mendalam dari dokter untuk mengajari cara pakai inhaler ini.

Ada dua jenis inhaler yang digunakan dalam penanganan penyakit asma, yaitu:

1. Inhaler Pereda.

Inhaler pereda digunakan untuk meringankan gejala asma dengan cepat saat serangan sedang berlangsung. Biasanya inhaler ini berisi obat-obatan yang disebut short-acting beta2-agonist atau beta2-agonist yang memiliki reaksi cepat (misalnya terbutaline dan salbutamol). Obat ini mampu melemaskan otot-otot di sekitar saluran pernapasan yang menyempit. Dengan begitu, saluran pernapasan dapat terbuka lebih lebar dan membuat pengidap asma dapat bernapas kembali dengan lebih mudah.

2. Inhaler Pencegah.

Selain dapat mencegah terjadinya serangan asma, inhaler pencegah juga dapat mengurangi jumlah peradangan dan sensitivitas yang terjadi di dalam saluran napas. Biasanya Anda harus menggunakan inhaler pencegah tiap hari untuk sementara waktu sebelum merasakan manfaatnya secara utuh. Anda juga mungkin akan membutuhkan inhaler pereda untuk meredakan gejala saat serangan asma terjadi. Namun jika Anda terus-menerus membutuhkan inhaler pereda tersebut, maka penanganan Anda harus ditinjau ulang secara keseluruhan.

Selain dengan inhaler, penanganan asma juga bisa dilakukan dengan obat-obatan seperti “Obat-obatan asma“. Konsultasikan kepada dokter mengenai dosis dan pemakaian obat. Biasanya, obat asma yang diminum ini adalah sebagai “pengontrol gejala” dan tidak digunakan ketika serangan asma terjadi.

Ipratropium. Meski lebih banyak diresepkan pada kasus bronkitis kronis dan emfisema, ipratropium juga bisa digunakan untuk menanggulangi serangan asma. Obat ini mampu memperlancar aliran pernapasan dengan cara melemaskan otot-otot saluran pernapasan yang mengencang ketika gejala asma kambuh.

Omalizumab. Obat ini mampu menurunkan risiko terjadinya peradangan saluran pernapasan dengan cara mengikat salah satu protein yang terlibat di dalam respons imun dan mengurangi kadarnya pada darah. Umumnya, omalizumab direkomendasikan bagi penderita yang menderita asma karena alergi dan sering mengalami serangan asma. Sebagai obat yang biasanya hanya diresepkan oleh dokter spesialis, omalizumab diberikan dengan cara disuntikkan tiap 2-4 minggu sekali. Penggunaan omalizumab harus dihentikan jika obat ini tidak berhasil mengendalikan asma dalam kurun waktu enam belas minggu.

Steroid oral. Tablet steroid mungkin akan diresepkan dokter jika asma Anda masih belum bisa dikendalikan. Pengobatan ini biasanya dipantau oleh dokter spesialis paru yang menangani penderita asma karena jika digunakan secara jangka panjang (misalnya lebih dari tiga bulan), berisiko menyebabkan efek samping tertentu, seperti hipertensi, kenaikan berat badan, otot melemah, pengeroposan tulang, kulit menipis dan mudah memar.

Tablet theophylline. Obat yang bisa difungsikan sebagai obat pencegah gejala asma ini bekerja dengan cara membantu melebarkan saluran napas dengan melemaskan otot-otot di sekelilingnya. Pada sebagian orang, tablet theophylline diketahui menyebabkan efek samping, seperti mual, sakit kepala, muntah, insomnia,dangangguan perut. Namun hal ini biasanya dapat dihindari dengan penyesuaian dosis.

Bilamana terjadi serangan asma dengan gejala yang terus memburuk (secara perlahan-lahan atau cepat) meskipun sudah ditangani dengan inhaler atau obat-obatan lainnya, maka penderita harus segera mendapatkan penanganan di rumah sakit. Meski jarang terjadi, serangan asma bisa saja membahayakan nyawa. Bagi penderita asma kronis, peradangan pada saluran napas yang sudah berlangsung lama dan berulang-ulang bisa menyebabkan penyempitan permanen.

Mengendalikan Penyakit Asma

Jika Anda kebetulan mengidap asma atau hidup dengan asma sejak lama, jangan cemas dengan kondisi ini karena asma merupakan penyakit yang masih dapat dikendalikan asalkan Anda:

  1. Mengenali dan menghindari pemicu asma.
  2. Mengikuti rencana penanganan asma yang dibuat bersama dokter.
  3. Mengenali serangan asma dan melakukan langkah pengobatan yang tepat.
  4. Menggunakan obat-obatan asma yang disarankan oleh dokter secara teratur.
  5. Memonitor kondisi saluran napas Anda.

Jika penggunaan inhaler pereda asma reaksi cepat makin meningkat, segera konsultasikan kepada dokter agar rencana penanganan asma Anda disesuaikan kembali. Selain itu, disarankan untuk melakukan vaksinasi influenza dan pneumonia secara teratur untuk mencegah memburuknya penyakit asma yang disebabkan kedua penyakit tersebut.

Langkah tepat yang dapat dilakukan untuk menghindari serangan asma adalah menjauhi faktor-faktor penyebab yang memicu timbulnya serangan asma itu sendiri. Setiap penderita umumnya memiliki ciri khas tersendiri terhadap hal-hal yang menjadi pemicu serangan asmanya. Setelah terjadinya serangan asma, apabila penderita sudah merasa dapat bernafas lega akan tetapi disarankan untuk meneruskan pengobatannya sesuai obat dan dosis yang diberikan oleh dokter.

Bagi Anda yang memiliki penyakit seperti asma dan sering melakukan aktifitas di luar rumah, sebaiknya gunakanlah masker terutama ketika berada atau melewati tempat-tempat dengan udara yang kurang baik agar terhindar dari asap kendaraan bermotor, asap pabrik, maupun debu yang beterbangan. Jika asma yang Anda alami diakibatkan karena alergi maka kenali faktor alergi apa saja yang dapat memicu kekambuhan, baik itu karena makanan, zat kimia, hewan maupun tumbuhan tertentu.

Setelah mengetahui faktornya maka sebaiknya anda menghindari kontaminasi faktor-faktor tersebut. Maka dari itu demikianlah penjelsan mengenai asma, semoga artikel ini memberi manfaat bagi pembaca.