Bisakah Wanita Hamil Melakukan Hubungan Seksual?

Hamil adalah akibat proses pembuahan yang terjadi selama 12—24 jam dari waktu dimulainya sel telur dilepaskan. Sperma dapat bertahan kurang lebih selama 5 hari. Jika sperma berhasil membuahi telur, telur akan menuju ke uterus dan menempel di lapisan tebal yang terdapat di dalamnya. Setelah itu, tubuh mulai memproduksi hormon kehamilan. Proses pembuahan bisa terjadi akibat adanya hubungan seksual, yaitu aktivitas seksual yang berkaitan dengan sistem reproduksi yang melibatkan gamet pria dan wanita.

Dan saat hamil wanita pastinya mengalami banyak perubahan, seperti halnya perubahan kondisi tubuh yang di awal dengan perubahan hormon, pengerasan payudara, mual, naik turunnya emosi dan kelelahan dapat menurunkan hasrat untuk berhubungan seksual. Saat kandungan membesar, hasrat seksual mungkin tetap turun karena sakit punggung dan pertambahan berat badan yang dirasakan wanita. Namun ternyata pada sebagian lain wanita, dapat terjadi peningkatan hasrat seksual yang berkaitan dengan peningkatan produksi hormon.

Berhubungan seks saat hamil merupakan salah satu pertanyaan umum yang banyak ditanyakan ibu hamil ketika berkonsultasi kehamilan. Sering kali seorang perempuan yang sedang mengandung mengalami gairah seksual yang memuncak dan tak jarang wanita hamil begitu menggairahkan di mata lelaki. Nah, terkadang masalah berhubungan intim saat hamil, memang menjadi kekhawatiran serta perdebatan sendiri bagi banyak orang. Lalu, Apakah aman melakukan seks saat hamil?

Berhubungan Seks Saat Hamil

Jika kehamilan Anda normal, berhubungan seksual saat hamil tidak akan membahayakan. Keinginan untuk tetap berhubungan seks saat hamil merupakan hal yang wajar. Kehamilan bukan merupakan halangan Anda untuk tetap menjalani seks saat hamil. Menurut penelitian Johns Hopkins Medicine Center, seks selama kehamilan awal dinyatakan aman dan tidak akan menyakiti bayi Anda dan jika memang Anda memiliki catatan kehamilan yang tidak bermasalah.

Hanya saja, ketika usia kehamilan menginjak usia ke 3 bulan, umumnya gairah untuk bercinta pada wanita memang menurun. Hal ini diakibatkan sebab adanya berbagai gejala kehamilan yang terkadang membuat tubuh ibu hamil merasa tidak nyaman. Akan tetapi, setelah gangguan kehamilan tersebut menghilang, gairah tersebut akan kembali dan bahkan meningkat. Peningkatan ini umumnya dikaitkan dengan perubahan hormon dalam tubuh ibu hamil.

Melakukan hubungan suami istri pada masa kehamilan tidak memberikan masalah kehamilan selama hal ini dilakukan dengan wajar dan pastikan kehamilan ini bukanlah kondisi yang beresiko. Selain itu, sebaiknya upayakan bahwa tidak ada dorongan terlalu kuat hingga kebagian lebih dalam dari leher rahim sehingga tidak mengganggu perkembangan bayi dalam kandungan anda.

Janin Anda pada dasarnya dilindungi oleh cairan ketuban yang terdapat pada rahim dan otot-otot rahim yang kuat. Maka itu, aktivitas seksual tidak akan mempengaruhi perkembangan bayi Anda. Dan jika anda telah mengonsultasikan hal ini dengan dokter dan memperbolehkan Anda untuk berhubungan seks saat hamil, maka janganlah ragu. Pada kehamilan yang normal, tidak ada alasan untuk menghentikan aktivitas seksual, selama Anda merasa nyaman melakukannya.

Namun, yang perlu diperhatikan adalah, jangan sampai Anda dan pasangan membahayakan janin saat berhubungan seks. Berhubungan seks saat kehamilan kadang dapat menyebabkan kontraksi, terutama pada trimester ketiga dan hal ini adalah normal. Jika kontraksi ini terasa tidak nyaman, cobalah untuk relaksasi atau hanya berbaring sampai kontraksi hilang.

Meski pada beberapa kondisi tertentu, wanita yang mengalami kehamilan rentan, harus berhati-hati dan memerlukan ekstra perlindungan bagi ibu dan janinnya. Perlindungan yang dimaksud di sini adalah, tentang gaya dan cara berhubungan intim yang aman. Mari simak beberapa gaya dan cara berhubungan intim saat hamil yang bisa Anda coba dengan pasangan.

Cara Aman Berhubungan Intim Saat Hamil

Hormon dalam tubuh ibu hamil mengalami ketidakstabilan yang dapat menyebabkan mual, muntah, susah makan, tidak nafsu makan dan terkadang tingkat emosinya lebih tinggi. Karena kenaikan hormon tersebut mengakibatkan banyak keluhan sehingga bagi ibu hamil malas untuk melakukan hubungan seksual.

Tapi jangan salah suami harus wajib dilayani. Lalu, bagaimana cara berhubungan seksual saat hamil dengan posisi yang baik. Berikut macam posisi yang nyaman dan aman untuk hubungan seksual selama kehamilan.

1. Missionari Klasik

Posisi hubungan intim yang paling klasik ini ternyata juga aman dilakukan saat ibu sedang hamil, lho. Tapi mintalah suami berhati-hati agar jangan sampai menekan perut ibu. Ketika melakukan posisi ini, ibu enggak perlu banyak bergerak agar bisa lebih rileks. Gunakan juga bantal untuk mengganjal punggung agar ibu bisa merasa lebih nyaman dan perut tetap terjaga dari guncangan. Sebaiknya ibu melakukan hubungan intim dengan posisi ini setelah masuk trimester kedua.

2. Sisi pelana

Tumpukan kaki istri pada tubuh suami untuk melakukan posisi ini. Wanita hamil bisa memiringkan tubuh ke sisi menghadap suami untuk memberikan kenyamanan pada perut yang semakin membesar. Posisi ini sangat menyenangkan karena memungkinkan suami menggunakan tangannya yang bebas untuk bereksplorasi pada tubuh sang istri. Kuncinya, harus menemukan angle atau sisi miring yang paling pas.

Posisi ini tepat untuk kehamilan pada trimester pertama, kedua, maupun ketiga, selama wanita hamil ini merasa nyaman. Ada kemungkinan akan merasa pusing jika harus tidur dalam posisi telentang. Agar lebih nyaman, ganjal kepala anda dengan bantal.

3. Woman On Top

Perempuan di Atas, Pria di Bawah. Gaya ini bisa dibilang aman lantaran posisi perut si cewek seperti orang duduk. Posisi yang paling banyak dilakukan ibu hamil ini memang terbukti paling nyaman. Istri dapat membuatnya lambat atau cepat, sambil mengontrol kedalaman penetrasi. Naik turunnya kecepatan gerakan juga dapat dikontrol ibu dengan leluasa. Rebahkan tubuh anda di atas pasangan. Dapat dilakukan dengan cara menghadap ke mukanya atau menghadap kaki. Hal yang penting diingat adalah jangan melakukan gerakan terlalu kencang.

Jangan terlalu cepat mengguncangnya, lantaran bisa membahayakan posisi bayi di dalam rahim ibu karena dapat menyebabkan stres pada anak. Beberapa wanita bahkan mengakui kalau gerakan berputar adalah pasangan kombinasi yang menyenangkan bagi mereka maupun suaminya. Dengan posisi ini, Anda (terutama istri Anda), bisa mencegah penekanan terlalu banyak pada bagian perut dan payudara istri Anda, yang memang membahayakan kehamilannya. Posisi ini memungkinkan perempuan untuk memegang lebih banyak kendali atas gerakan.

4. Spooning

Posisi ini dilakukan dengan tubuh berbaring menyamping, jadi pria di belakang sang wanita dengan gaya seperti menyerok. Jadi posisinya adalah si cewek berbaring sambil menyamping menoleh kanan atau kiri, kemudian cowok di belakangnya melakukan penetrasi dari belakang si wanita (tetapi bukan hubungan seksual anal. Hanya penetrasinya lewat arah belakang).

Posisi ini salah satu posisi yang paling aman dilakukan saat hamil tua. Pasangan Anda berada di belakang dan memasuki dari belakang. Penetrasi dangkal, jadi dengan melakukan posisi ini Anda dan pasangan tetap dapat melakukan hubungan intin ini saat hamil tua. Cara ini aman bagi Anda yang memasuki masa akhir kehamilan. Ini juga sesuai dilakukan pada saat perut istri sudah besar atau saat istri tidak dapat berperan aktif lagi selama bercinta (seperti pada posisi perempuan di atas).

5. Modifikasi Missionari

Pada dasarnya posisi ini hampir sama dengan missionari klasik. Bedanya, suami berlutut di pinggir tempat tidur. Posisi ini paling baik dilakukan saat perut Bunda sedang besar-besarnya. Karena memberikan kenyamanan penuh dan menghindari tekanan pada perut. Agar suami juga nyaman, berikan bantal sebagai tempat kakinya bertumpu.

6. Doggy-Style

Telungkuplah dengan tumpuan telapak tangan dan lutut pada tempat tidur. Suami akan melakukan tugasnya dari belakang dengan posisi berdiri di tepi ranjang atau berlutut di atas ranjang. Posisi ini membuat penetrasi sangat dalam sehingga Bunda harus berkomunikasi jika merasa tidak nyaman. Bila kehamilan sudah memasuki trimester ketiga, posisi ini paling pas. Sebab, tidak mengganggu perut yang sudah besar serta tidak memberikan tekanan pada punggung dan panggul.

Saat mencari cara memuaskan suami saat hamil kadang anda justru keasyikan mengeksplorasi diri dan pasangan. Meskipun demikian, ada hal-hal yang harus dihindari.

Kondisi Yang Perlu Dihindari Bila Berhubungan Seks Saat Hamil

Beberapa hal dibawah ini adalah hal-hal yang sebaiknya anda pastikan keamanannya. Atau dalam kata lain, dibawah ini adalah rambu-rambu yang penting diperhatikan sebelum anda melakukan hubungan suami istri dengan pasangan. Berikut hal yang sangat penting untuk anda hindari.

1. Seks Oral. Hindari hubungan seksual, termasuk seks oral, jika pasangan Anda sedang memiliki penyakit menular berbahaya seperti herpes oral, penyakit menular seksual, ataupun HIV. Kondom lateks dapat juga digunakan untuk melindungi diri.

2. Kandungan Sehat. Aturan berhubungan intim saat hamil yang pertama sudah pasti kandungan harus sehat. Yang dimaksud dengan kandungan sehat adalah kehamilan yang berlangsung normal, tanpa adanya gangguan atau penyakit. Gangguan ini bisa berupa mulut rahim terbuka, ketuban pecah, infeksi dan lain sebagainya.

Dan Apabila ibu hamil memiliki riwayat serviks inkompeten, plasenta previa atau mengalami pendarahan berat atau infeksi pada bagian organ kemaluan, sebaiknya hentikan melakukan hubungan intim dan segeralah berkonsultasi ke dokter.

3. Lakukan Setelah Trimester Pertama, Berdasarkan pernyataan beberapa ahli, sperma mengandung senyawa prostaglandin yang dapat menyebabkan rasa mulas. Oleh karenanya, wanita hamil yang usia kandungannya masih sangat muda tidak disarankan berhubungan intim terlebih dahulu demi menghindari kontraksi dan keguguran. Selain itu, kondisi istri akan sering mengalami mual dan muntah.

Bila kondisinya seperti ini, biasanya dorongan gairahpun akan ikut menurun. Lalu, berhubungan intim saat hamil trimester pertama juga masa rawan bagi kandungan karena janin dan ari-arinya belum terbentuk dengan sempurna.

4. Tidak Memiliki Riwayat Pendarahan. Ketiga, pastikan kamu tidak memiliki riwayat pendarahan selama hamil, serta tidak mengalami plasenta previa. Plasenta previa adalah posisi perlekatan plasenta atau ari-ari yang berada di bagian bawah rahim, baik sebagian ataupun keseluruhan sehingga berpotensi menutupi jalan lahir.

Kondisi ini juga berisiko menimbulkan pendarahan saat hamil, terutama saat mendekati waktu persalinan. Jadi, hindari berhubungan intim saat hamil jika kamu pernah mengalami kedua hal di atas. Sebab dalam kondisi ini, berhubungan intim saat hamil dapat meningkatkan risiko pendarahan yang pada akhirnya membahayakan ibu dan janin.

5. Perhatikan Posisi Hubungan Intim, Memasuki trimester kedua, perut ibu hamil otomatis mulai membesar. Untuk itu, cermati posisi saat berhubungan agar tetap merasa nyaman. Hindari posisi telentang karena posisi ini dapat menekan perut dan menyebabkan penekanan pada pembuluh darah di daerah perut. Adapun posisi berhubungan intim saat hamil tua yang disarankan adalah posisi miring (spoon position), duduk (sitting dog), atau wanita di atas (woman on top).

6. Jangan di 4 Minggu Sebelum Kelahiran, Seperti di trimester pertama, berhubungan intim saat hamil harus dihindari dalam empat minggu terakhir sebelum kelahiran. Berhubungan intim saat usia kehamilan tersebut berpotensi menyebabkan persalinan prematur.

7. Meniup udara ke dalam vagina. Katakan pada suamimu, jangan sampai meniupkan udara ke dalam vagina. Jika hal ini terjadi pada ibu hamil, bisa menyebabkan emboli udara yaitu penyumbatan pembuluh darah oleh gelembung udara. Sebenarnya hal ini tidak berbahaya, tetapi dapat berakibat fatal bisa dialami oleh ibu hamil, termasuk bayi yang ada di dalam perut.

Buat para wanita hamil yang masih ragu dan bingung ada baiknya mengkonsultasikan hal ini kepada pihak yang lebih paham (dokter). Maka dari itu demikianlah pembahasan mengenai “bolehkan wanita hamil melakukan hubungan intim” dari ulasan diatas semoga pembaca dapat memahami dan apabila masih ragu jangan lupa untuk pertanyakan hal ini ke Dokter.