Bukan Sekedar Ungkapan, Inilah Penjelasan Mengenai “Air Mata Buaya”

Mata adalah indera penglihatan, Dengan mata, kita bisa melihat dunia beserta warna-warninya. Kita bisa dengan mudah menjelajahi dunia berkat bantuan mata kita. Karena fungsinya yang penting ini, mata memiliki beberapa proses untuk melindunginya supaya bisa bekerja dengan baik.

Kita bisa berkedip, menutup mata dan juga mengeluarkan air mata. Air mata adalah kelenjar yang diproduksi oleh proses lakrimasi (bahasa Inggris, lacrimation atau lachrymation) (dari bahasa Latin lacrima, artinya “air mata”) untuk membersihkan dan melumasi mata. Kata lakrimasi juga dapat digunakan merujuk pada menangis.

Nah, bicarain masalah air mata namun pada kesempatan ini bukan air mata pada manusia melainkan saya akan mengusik sedikit mengenai air mata pada hewan. Hewan seperti apakah dia? Kali ini saya akan ngebahas mengenai istilah “air mata buaya” Pastinya kamu sudah pahamkan dengan kata-kata seperti itu. Atau kamu hanya tahu bahwa ini hanyalah kiasan semata? Ternyata kata “Air mata buaya” Benerlah. Lho buaya bisa juga menangis nih? Nah, pasti penasaran kan untuk itu yuk, kita simak pembahasan dibawah ini.

Pengertian Air Mata Buaya

Adalah emosi yang hanya berpura-pura atau palsu pada seorang yang munafik dimana dia hanya pura-pura bersedih dan mengeluarkan air mata tidak dari hatinya atau air mata palsu. Istilah ini asalnya dari sebuah anekdot kuno bahwa buaya itu menangis untuk menarik perhatian dari mangsanya atau menangis untuk mangsa yang telah mereka terkam. Kisah ini bermula menyebar di dalam cerita perjalanannya Sir John Mandeville di abad ke empat belas.

Sejak tahun 1357 dalam buku yang ditulis oleh John Mandeville yang berjudul: The Travels of Sir John Mandeville. Dimana dalam buku ini mengisahkan pertualangan dari John Mandeville dalam mengarungi lautan dan benua di dunia.

Dalam bukunya tersebut, Mandeville menceritakan tentang seekor buaya yang berpura-pura tidak makan daging. Tapi suatu saat buaya tersebut secara mengejutkan memangsa seorang laki-laki. Tapi, anehnya buaya tersebut tampak mengeluarkan air mata saat memakan laki-laki tersebut.

Dan istilah inipun dipakai tokoh populer dalam dunia sastra, William Shakespeare. Dalam naskah sandiwaranya yang berjudul Tragedi Othello di tahun 1603 tersebut terdapat dialog tentang tangisan atau air mata buaya. Adapun kalimatnya adalah sebagai berikut, ‘Ya, iblis, iblis! Jika bumi ini dikerumuni oleh tangisan wanita, setiap tetes yang jatuh akan membuktikan bahwa itu buaya. Pergilah dari pandanganku!

Dan ternyata istilah air mata buaya tidak hanya populer di Indonesia. Dalam khasanah bahasa Inggris pun istilah ini ada, yakni “cry crocodile tears”. Seperti di Indonesia, di belahan Barat istilah air mata buaya juga ditujukan untuk orang yang menangis pura-pura menyesal. Dalam salah satu artikel di National Geographics disebutkan bahwa selama berabad-abad lamanya manusia menggunakan istilah airmata buaya tanpa benar-benar tahu apa maksudnya.

Benarkah Buaya Menangis?

Baru belakangan inilah studi memperlihatkan bahwa reptil pemangsa itu benar-benar meneteskan airmata saat melahap mangsanya. Nah, mungkinkah buaya-buaya itu benar-benar menagis atau bahkan mereka bisa juga merasakan kesedihan, seperti halnya seekor lembu yang ketika hendak dipotong mereka menangis dan konon katanya mereka paham dan mengerti bahwa dirinya akan segera disembelih.

Dan seperti yang kita tahu, bahwa begitu banyak pertanyaan mengenai istilah “AIR MATA BUAYA” Apakah buaya bisa menangis? Dan apakah tangisannya hanya pura-pura saja?

Dalam faktanya, buaya memang menangis ketika memakan mangsanya. Bukan sebab dia merasa iba, menyesal atau sedih karena memakan buruannya. Namun, buaya menangis sebab ketika dia memakan buruannya, kelenjar air mata buaya tertekan dan air matanya pun keluar seperti sedang menangis. Padahal sebenarnya dia lagi bahagia dengaan memakan buruannya yang lezat. Dan inilah sebab mengapa dikatakan bahwa istilah air mata buaya ini sebagai kepura-puraannya seseorang (sandiwara).

Airmata sang buaya mengalir lebih karena alasan biologis, bukan karena alasan emosional seperti penyesalan. Kent Vliet dari Universitas Florida mengatakan, umumnya airmata buaya sama dengan airmata manusia. Kamu bisa menyaksikan kelembaban di mata mereka atau air berkumpul di sudut mata. Pada waktunya, airmata akan menetes keluar dari sudut mata dan mengalir ke wajah mereka seperti airmata yang meleleh di wajah anak-anak manusia,” kata Vliet.

Sementara ahli buaya Adam Britton, yang juga pendiri Crocodilian.com, dalam studi terpisah menjelaskan bahwa buaya memproduksi airmata sepanjang waktu. Fungsi airmata buaya sama seperti airmata manusia, yakni untuk melumasi mata. Ini bahkan lebih relevan bagi buaya karena mereka memiliki kelopak mata ketiga yang dikenal sebagai membran pengelip.

Studi yang dilakukan Universitas Florida juga mengatakan bahwa tak mudah mengamati airmata buaya yang tumpah. Ini karena mereka sering menghabiskan waktu di bawah permukaan air dan juga karena mereka terlalu agresif saat berada di atas tanah. Dan ini lah yang perlu untuk kamu ketahui agar tidak tertipu lagi oleh buaya.

Nah, seperti yang kita tahu bahwa hewan juga mengeluarkan air mata pada saat tertentu, tapi air mata tersebut adalah murni sebuah reaksi fisiologis saja. Sama seperti kita yang kadang juga mengalami reaksi fisiologis dan mengeluarkan air mata, seperti ketika kornea mata kita terlalu kering, kelilipan atau kemasukan sesuatu seperti debu dan lainnya. Itu semua murni reaksi fisiologis, bukan karena kita merasa sakit.

Air mata yang disebabkan oleh rasa sakit lebih dianggap sebagai reaksi emosionaL/psikis. Walaupun sakit itu sendiri merupakan bagian dari fisiologis kita. Reaksi fisiologis murni dari rasa sakit itu adalah teriak (tindakan refleks). Seperti bayi, yang kita sangka menangis karena fisiologis (lapar, sakit dan lainnya) ternyata hanya menjerit. Bukan menangis. Bayi belajar menangis (mengeluarkan air mata) untuk berkomunikasi kepada orang sekitarnya menyatakan bahwa ia membutuhkan sesuatu, “Ingin diperhatikan”.

Gimana sudah paham bukan mengenai istilah ini? Banyak manusia yang menggunakan takti seperti halnya buaya. Mereka kerap berpura-pura dengan menangis untuk menutupi kesalahan atau bahkan kelakuan dan tingkah buruk mereka yang sebenartnya. Seperti halnya contoh berikut,

Peristiwa Air Mata Buaya

Mungkin bagi kamu yang pernah mengalami hal seperti ini mengerti dan paham akan kesel dan emosinya bila dihadapkan dengan beberapa manusia yang suka bersandiwara dan mengakibatkan seseorang mengalami kesusahan atas perilakunya. Anggap saja namanya sih “B” ia seorang karyawan di salah satu kantor swasta dan ia memiliki ambisi akan kedudukan, namun kelakuannya dikantor begitu terpuji bahkan ia kerap menunjukan sisi teman yang baik.

Namun, sebenarnya ia orang yang begitu berambisi akan sesuatu. Dan teman malang sebut saja dia sih “J” yang menjadi korban sandiwaranya, seperti yang kita tahu bahwa manusia licik dan suka bersandiwara itu sangat mengerikan.

Pada kesempatan dimana ia bisa memanipulasi sih “J” bahwa ia telah menyalah gunakan kedudukan dan membuat sih “J” harus menerima hukuman akibat kelalaiannya tersebut yang mengakibatkan kantor mengalami kerugian. Sosok bos menegaskan bahwa kedudukan ia harus digantikan oleh orang lain. Dengan liciknya sih “B” menyari simpati dan membuat dirinya lebih pantas.

Andai saja ada saksi atau bahkan rekaman cctv mungkin kejahatan sih “B” diketahui oleh rekannya yang telah ia fitnah yakni “J”. Gimana? Sudah mengertikan bahwa banyak teman, saudara hingga kekasih yang memiliki perilaku seperti ini. disebut dengan “air mata buaya”.

Mungkin banyak dari kita yang begitu mudah dapat terkecoh oleh seseorang yang terlihat lemah dan sering menangis, namun ada baiknya juga kamu selalu berhati-hati dan lebih tangkas dalam menghadapi seseorang. Dan kesimpulan yang terpenting ialah “jangan begitu mudah mempercayai seseorang walau ia terlihat baik dan lembut. Karena adakala manusia yang suka menjilat dan mereka selalu menggunakan taktik seperti halnya diatas.