Pembahasan Mengenai Mengapa Kita “Tertawa” Saat Digelitik?

Gelitik adalah aksi menyentuh organ tubuh tertentu yang sensitif, sehingga menimbulkan rasa geli. Salah satu cara mudah untuk membuat anak kecil tertawa adalah dengan menggelitiknya. Dengan menggelitik salah satu bagian tubuhnya, anak tersebut akan merasa geli dan tertawa.

Seringkali orangtua karena gemas menggelitik anaknya. Entah di pinggang, mencubit pipi atau di ketiak sehingga anak tertawa. Suasana ini merupakan salah satu cara yang menyenangkan menjalin kedekatan dengannya.

Saat digelitik, tawa keluar begitu saja. Kita bisa terpingkal bahkan sampai kehabisan nafas menahan geli. Lalu apa yang menyebabkan kita tertawa saat digelitik?

Penjelasan Ilmiah Gelitik Penyebab Tawa

Banyak di antara kita yang pasti merasa geli dan mulai tertawa terbahak-bahak saat kita digelitik oleh orang lain, namun pada saat kita menggelitik diri kita sendiri hal itu tidaklah terjadi. Apa alasan sebenarnya di balik hal itu? Ternyata tidak hanya karena sederhana merasa gelilah yang menyebabkan kita tertawa namun ada alasan kompleks di balik hal itu.

Ini jadi sebuah misteri yang banyak tak disadari manusia. Sulit mengetahui bagaimana kita bisa tertawa lepas hanya dengan sentuhan tanpa ada peristiwa lucu di dalamnya. Ada jutaan ujung syaraf kecil di bawah kulit manusia yang memberi sinyal pada otak. Fungsinya, untuk menerima semua jenis sentuhan dan sensasi yang dianalisis oleh sistem saraf. Sebuah sentuhan ringan dan lembut bisa menyebabkan sensasi geli di dalam tubuh yang membuat manusia tertawa.

Secara medis, geli merupakan reaksi fisiologis yang definisinya ‘tidak dapat dikendalikan otak’. Hal itu disebabkan akibat gabungan dari dua daerah otak yang bekerja secara bersamaan.

Somatosensorik korteks dan anterior cingulated cortex namanya. Somatosensorik adalah wilayah otak yang bertanggung jawab untuk menganalisis sentuhan dan tekanan yang terkait dengannya. Sementara anterios korteks cingulated adalah daerah otak yang mengelola perasaan menyenangkan yang menyebabkan tawa.

Seseorang tak dapat merasakn geli jika sentuhan terlalu keras. Jika manusia menerika sentuhan lebih keras, Anterior cortex akan mengirim sinyal sebagai rasa nyeri dibanding tertawa, itulah sebabnya mengapa beberapa orang tidak tertawa ketika digelitik.

Ternyata alasan lainnya di balik mengapa kita tertawa pada saat digelitik adalah sebagai respon tubuh kita untuk mempertahankan diri. Sadarkah Anda bahwa bagian-bagian dimana kita merasa geli sebenarnya adalah bagian-bagian yang paling mudah diserang di tubuh kita?

Dan pada saat kita terkejut, kita secara tidak sadar akan melindungi bagian-bagian tersebut. Pada saat kita merasa geli karena sebuah gelitika, pada kenyataannya tubuh kita sedang dalam sebuah kondisi akan kepanikan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Pada saat digelitik kita akan menggeliat-geliut sambil tertawa, sebenarnya itu adalah respon dimana tubuh kita berusaha kabur dari gelitikan tersebut, tidak tahu apa yang menyebabkan perasaan bahaya itu. Tertawa ketika digelitik merupakan suatu respon protektif. Tujuannya untuk menunjukkan kepada si penyerang bahwa rangsangannya sudah cukup, harap gelitikan dihentikan. Dengan kata lain, untuk melindungi diri sendiri maka munculah tawa.

Penyebab Rasa Geli Pada Manusia

Beberapa orang mungkin memiliki bagian sensitif yang berbeda, karena pada titik tersebut menghasilkan refleks geli dengan derajat yang bervariasi atau bahkan tidak sama sekali. Seseorang mungkin memiliki daerah sensitif dimana orang lain tidak merasakan apapun. Telapak kaki, leher dan ketiak merupakan dua daerah dalam tubuh yang paling sensitif bagi kebanyakan orang. Hal ini karena pada telapak kaki memiliki konsentrasi Meissner’s corpuscles yang lebih tinggi.

Ujung dari saraf ini akan membuat telapak kaki memiliki kadar geli yang lebih tinggi daripada bagian tubuh lainnya. Biasanya tempat yang paling geli adalah tempat yang sangat rentan terhadap serangan, setidaknya di sekitar bagian atas tubuh. Pada bagian ketiak mengandung pembuluh darah dan arteri, serta memungkinkan akses leluasa ke jantung karena tulang rusuk sangkar tidak lagi memberikan perlindungan kepada rongga dada di sekitar ketiak.

Hal yang sama juga berlaku pada bagian tubuh yang geli lainnya seperti leher. Karena tidak ada perlindungan dari tulang, maka secara otomatis seseorang akan bereaksi ketika daerah tersebut disentuh oleh orang lain. Sebagai tambahan, saraf reseptor yang dekat dengan permukaan kulit akan membuat sensitifitasnya makin tinggi. Selain itu, leher juga mengandung bagian-bagian penting. Seperti karotid yang akan memasok darah ke otak serta batang leher yang membawa udara ke paru-paru juga terletak dibagian depan leher.

Peneliti juga menunjukkan bahwa cerebellum (otak kecil), yang merespons sentuhan akan menunjukkan aktivitas yang lebih saat diberi sentuhan yang mendadak dibandingkan dengan sesuatu yang telah diantisipasi. Jika otak sudah bisa mengenali sentuhan yang akan datang, hal ini akan membuat saraf respons tidak terlalu intens. Makanya seseorang tidak akan pernah berhasil menggelitik diri sendiri.

Seseorang yang tertawa saat digelitik dipengaruhi oleh faktor sosial, karena orang akan tertawa jika yang melakukan sentuhan tersebut adalah seseorang yang dekat atau sudah merasa nyaman satu sama lain seperti orang tua, sahabat, atau teman. Namun, jika yang melakukannya adalah orang lain, responsnya bukan tertawa tapi bisa saja menjadi marah.

Dan adapun banyak pertanyaan dalam diri bahkan pada kamu-kamu yang membaca artikel ini. Mengapa pada saat diri kita menggelitikan tubuh sendiri, tak muncul rasa geli?

Tidak Bisa Merasakan Geli Saat Menggelitik Diri Sendiri?

Dalam suatu penelitian mengenai otak di University College London menunjukkan bahwa otak kecil (sebelum) merupakan bagian dari otak yang mampu mencegah timbulnya sensasi geli jika kita menggelitik diri kita sendiri. Otak kecil berperan untuk mengendalikan gerakan tubuh. Otak kecil ini mampu membedakan rangsangan yang terduga dan tidak terduga.

Saat mendapatkan rangsangan sentuhan yang terduga (misal ketika kita mencoba menggelitik tubuh sendiri), kita mampu mengetahui bagian tubuh mana yang akan disentuh (digelitik) dan otak kecil akan menekan rangsangan tersebut sehingga otak tidak memberikan reaksi terhadap rangsangan tersebut (tidak terasa geli). Namun, saat tubuh digelitik oleh orang lain, tubuh tidak dapat memperkirakan bagian tubuh mana yang akan diserang sehingga otak kecil belum mempersiapkan diri untuk menekan rangsangan tersebut.

Akibatnya otak akan memberikan respon terhadap rangsangan tersebut. Adanya unsur “kejutan”memegang peranan penting dalam menimbulkan sensasi geli ini. Perbedaan reaksi terhadap rangsangan yang terduga dan rangsangan yang tidak terduga terbentuk sebagai respon yang dikembangkan oleh tubuh untuk melindungi diri. Kata melindungi diri seperti yang dijelaskan diatas.

Jika gelitikan adalah respon tubuh akan pertahanan diri, lalu kenapa banyak orang yang melakukan hal itu sebagai interaksi sosial ke sesamanya dalam bentuk humor mereka? Nyatanya, itu sama sekali salah, gelitikan dan rasa humor sama sekali tidak berhubungan. Kita berpikir seperti itu karena mereka melihat lawan kita tertawa pada saat digelitik dan kita pasti mengasosiasikan tertawa dengan rasa senang.

Hal itulah yang pada akhirnya memacu orang-orang untuk menjadikan gelitikan sebagai interaksi sosial terhadap sesama. Namun tahukah kamu bahwa sangat bahaya jika kamu terus-terusan menggelitik seseorang hingga ia terus-terusan tertawa tanpa henti.

Tertawa Berlebihan Dapat Mengakibatkan Kematian

Efek dari perasaan yang sangat ekstrem, entah itu sedih lalu menangis dan bahagia lalu tertawa, pada dasarnya bisa mengaktifkan bagian otak yang dapat berpengaruh kepada pernapasan dan akhirnya mengakibatkan kematian. Ujar Dr Martin Samuels selaku profesor bidang neurologi, di Harvard Medical School.

Nah, ketika Anda tertawa otak Anda akan melepas hormon kimia adrenalin yang jika terlalu banyak justru dapat meracuni jantung. Kondisi emosi yang begitu kuat, entah emosi yang negatif maupun positif, akibatnya akan membahayakan kesehatan jantung anda. Untuk kasus tertawa berlebihan, ini bisa menyebabkan detak irama pada jantung Anda menjadi abnormal, yang mana hal tersebut dapat mematikan.

Efek Buruk Kesehatan Lainnya Akibat Tertawa;

  • Pneumotoraks

Pada penderita asma, tertawa dapat memicu serangan asma yang akan menyebabkan pingsan. Selain itu, efek tertawa berlebihan bahkan dapat menyebabkan pneumotoraks, yaitu penimbunan udara pada dinding pleura yang dapat memicu pengempisan paru-paru. Jika Anda mengalami hal ini, Anda mungkin akan kolaps atau pingsan di tempat.

  • Menyebabkan Cataplexy

Cataplexy adalah kondisi langka terkait narkolepsi. Cataplexy ini bsa muncul ketika Anda tertawa terbahak-bahak atau bisa dibilang berlebihan, lalu otot-otot pada wajah Anda akan mengendur sehingga Anda akan langsung lemas dan bahkan pingsan. Dan yang lebih buruknya adalah, rahang Anda bisa terkilir akibat pelemasan otot ketika Anda tertawa dengan lepasnya.

  • Mengundang Aneurisma Pada Otak

Salah satu efek berbahaya yang ditimbulkan jika Anda tertawa tanpa kendali adalah timbulnya aneurisma otak tanpa Anda sadari. Mengapa demikian? Aneurisma terjadi akibat pelebaran pembuluh darah arteri yang akan terjadi ketika otak dan sistem pernapasan kita tidak mampu mengendalikan hormon adrenalin dari efek tertawa kita. Dalam kasus yang biasa terjadi, aneurisma akan pecah akibat tekanan yang terdapat pada tengkorak otak ketika tertawa

  • Terkena hernia

Siapa yang sangka efek tertawa berlebihan dapat menyebakan hernia? Selama tertawa, perut Anda akan menimbulkan kontraksi otot dan akan menyebabkan tekanan pada dinding perut lebih kuat. Akibatnya, usus juga akan berpengaruh tertekan dan menonjol pada bagian bawah perut.

Hal tersebutlah yang dinamakan hernia. Meskipun banyak orang yang masih bisa hidup baik-baik saja bersama penyakit hernia, tapi Anda kan jadi sulit untuk tertawa. Karena pada saat tertawa, kemungkinan komplikasi akan terjadi dan dapat mengakibatkan kematian akibat kurangnya pasokan darah ke usus.

Gimana? Masih mau menggelitik teman atau keluarga dengan berlebihan. Seperti yang kita tahu bahwa kerap sekali orang tua begitu asik menggelitik buah hatinya hingga sang anak sampai menangis karena begitu lelah terus-terusan tertawa. Maka dari itu disarankan dan disimpulkan bahwa menggelitik boleh-boleh saja asalkan dengan kondisi yang benar (baik).

Sudah tahukan alasan mengapa seseorang tertawa pada saat ia digelitikan. Untuk itu demikianlah artikel mengenai Gelitik. Semoga pembahasan ini bermanfaat bagi kamu yang membacanya. 🙂