Wow, Fenomena Aneh Dalam Pikiran Manusia

Ada satu hal yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya, yakni akal pikiran. Pikiran ini yang membantu kita memecahkan masalah, membuat ide dan sebagainya. Pikiran adalah hal yang indah, ada banyak hal yang tetap menjadi misteri sampai hari ini. Ilmu pengetahuan dapat menjelaskan fenomena aneh, namun tidak dapat menjelaskan asal-usul mereka.

Otak dan sel saraf kita bekerja dengan cara yang misterius, mengapa dikatakan demikian? Karena masih saja terdapat hal hal msiteri yang tidak bisa dijelaskan. Sejak jaman dahulu kala para ahli melakukan studi mengenai cara kerja otak hingga sekarang, walaupun bisa dijelaskan secara ilmiah, namun tidak sepenuhnya mengobati rasa penasaran yang ditimbulkan.

Sebagian orang menganggap hal tersebut adalah sesuatu yang supranatural misteri yang tidak bisa dijelaskan. Ada beberapa pemikiran yang tercipta dari otak justru membentuk fenomena yang aneh. Lalu seperti apakah fenomena aneh tersebut?

Fenomena Aneh Dalam Pikiran Manusia

Alam pikiran manusia adalah sesuatu yang sangat unik sekaligus misterius. Sampai saat ini, umat manusia mungkin sudah menyelami samudra terdalam atau mendaki dukung tertinggi, namun kita belum bisa mengerti tentang alam pikiran kita sendiri. Beberapa fenomena yang sulit dijelaskan terkadang muncul dalam alam pikiran kita. Hal ini tidak bisa lepas dari sifat alam pikiran itu sendiri, yaitu selalu berkembang. Berikut ini fenomena aneh dalam pikiran manusia.

1. Deja vu

Dejavu (deja vu) adalah ketika kita merasa yakin sedang mengalami atau menyaksikan suatu kejadian yang sebelumnya pernah terjadi. Kita merasa bahwa peristiwa yang baru saja terjadi ini sudah pernah terjadi sebelumnya, dengan kata lain berulang lagi. Jadi seseorang yang mengalami Dejavu akan merasakan bahwa mengalami kejadian yang sama persis seperti yang pernah alami sebelumnya. Padahal sesungguhnya hal itu belum pernah terjadi sebelumnya.

Dejavu sendiri berasal dari bahasa Perancis dengan ejaan seperti ini déjà vu yang berarti pernah melihat. Kondisi ini memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut:

  • Merupakan suatu fenomena yang terjadi sekejap dan dapat timbul kapan saja.
  • Dapat timbul secara tiba-tiba dan tidak ada yang dapat memprediksi kapan deja vu akan datang.
  • Deja vu sendiri juga tidak dapat diciptakan.
  • Terjadi kapan saja, fenomena ini dapat saja terjadi pada saat mulai suatu percakapan, suatu kegiatan, atau mendatangi suatu tempat yang baru.

Mekanisme terjadinya Dejavu sampai saat ini masih menjadi suatu misteri. Sangatlah sulit untuk meneliti Dejavu di dalam laboratorium sehingga faktor penyebabnya juga masih belum diketahui secara pasti. Bagian otak yang banyak dipelajari dalam hal ini adalah lobus temporal, dimana bagian tersebut berperan dalam membuat dan menyimpan memori. Selain itu, bagian temporal juga berperan dalam proses pengenalan dan kemiripan suatu obyek.

Adanya ganggguan pada aktivitas listrik di bagian temporal otak diduga berperan dalam terjadinya déjà vu. Pada pasien epilepsy, yang memang mengalami gangguan aktivitas listrik pada serabut sarafnya, memiliki resiko yang lebih besar dibandingkan orang normal.

Bagaimana mengatasi Dejavu?

Dejavu bukanlah suatu penyakit atau kelainan tertentu, melainkan hanyalah suatu fenomena yang tidak lazim terjadi, namun tidak sampai menyebabkan gangguan aktivitas yang berarti. Sampai saat ini belum pernah terjadi kasus Dejavu yang sampai menimbulkan suatu permasalahan. Oleh karena itu, orang yang mengalami Dejavu tidak pernah sampai berobat ke dokter. Sampai saat inipun tidak ada pengobatan untuk mengobati atau mencegah terjadinya Dejavu.

Tiga Jenis Deja Vu

  • Deja Vecu

Kondisi deja vu yang dialami oleh setiap orang pun biasanya tidak selalu sama. Meski pada prinsipnya serupa namun deja vu sendiri terdiri dari berbagai macam kondisi. Ada masanya di mana seseorang merasa bahwa dirinya pernah memikirkan hal yang sama di masa lalu.

Akan tetapi, dirinya tidak mengetahui kapan tepatnya ia memikirkan hal tersebut. Apabila ada yang pernah mengalami hal yang seperti ini berarti sedang merasakan deja vecu. Bahkan deja vu jenis ini kerap membuat seseorang merasa bahwa dirinya tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia pun kerap merasakan bahwa dirinya sangat familiar dengan kejadian yang akan terjadi tersebut hingga merasuk ke dalam memorinya.

  • Deja Senti

Berbeda dengan deja vecu, ada seseorang yang pernah dilanda sebuah perasaan yang secara pasti ia yakini pernah dialami pada waktu-waktu sebelumnya. Hal ini sering dinamakan dengan deja senti. Pada kondisi ini, seseorang yang mengalami deja vu memusatkan dirinya pada perasaan yang ada.

Meski perasaan sendiri kerap serupa seperti sedih dan marah yang tentunya dapat dialami oleh seseorang beberapa kali selama hidup tetapi mereka yang mengalami deja senti menyatakan bahwa hal ini merupakan sesuatu yang berbeda. Mereka sangat memahami bahwa seseorang dapat merasakan perasaan sedih yang sama tetapi jika mengalami deja senti, seseorang akan merasakan segala perasaan secara keseluruhan seperti pernah dialami di masa lalu.

  • Deja Visite

Selain itu ada pula deja visite di mana seseorang merasa pernah berada di tempat yang ia datangi di masa lalu padahal sebelumnya ia sama sekali belum pernah menginjakkan kaki ke sana dan ia tahu itu. Akan tetapi, beberapa orang yang mengalami deja visite bahkan mengetahui dengan pasti seluk beluk lokasi yang ia datangi padahal sebelumnya tidak pernah bertandang ke sana.

Banyak orang pernah mengalami salah satu dari ketiga jenis deja vu dan bahkan ada pula yang mengalami semuanya. Namun secara medis, kondisi deja vu dikatakan sebagai fenomena otak yang dapat dipicu oleh berbagai macam hal termasuk penggunaan obat-obatan.

2. Prosopagnosia

Pernahkah Anda bertemu seseorang tapi wajahnya benar-benar tidak bisa diingat sama sekali? Jika Anda sering mengalami hal seperti itu ada baiknya segera berkonsultasi dengan dokter pribadi Anda. Kondisi seperti itu disebut sebagai gangguan buta-wajah atau prosopagnosia. Prosopognasia yang juga dikenal dengan face blindness ini, merupakan suatu penyakit yang menyebabkan seseorang salah mempersepsi wajah orang yang telah dikenal atau bahkan juga oleh wajahnya sendiri.

Istilah prospognasia berasal dari bahasa Yunani yakni prosopon yang berarti wajah dan agnosia yang berarti untuk ketidaktahuan, istilah ini pertama kali dicetuskan oleh seorang ahli neurologi jerman Joachim Bodamer pada tahun 1947 yang namun sebelum itu gejala penyakit Prosoponasia ini telah dideskripsikan oleh Wilbrand pada tahun 1892.

penyakit prosoponasia itu sendiri terbagi dalam 3 jenis, yakni :

  • Prosopagnosia aperseptif menunjukkan kelainan sistem pengenalan wajah pada otak penderita sehingga penderita sama sekali tidak dapat membedakan wajah, usia, dan jenis kelamin seseorang.
  • Prosopagnosia asosiatif menunjukkan adanya ketidakcocokan antara proses pengenalan wajah pada otak dan proses perekaman informasi pada memori penderita. Walaupun mampu membedakan wajah, namun tidak dapat mengingat nama, pekerjaan, atau informasi lain mengenai orang tersebut.Prosopagnosia tipe ini juga dikenal sebagai prosopagnosia amnestic.
  • Prosopagnosia developmental yaitu prosopagnosia keturunan dengan tingkat ketidakmampuan pengenalan wajah yang berbeda dengan aperseptif dan asosiatif. Pada kategori ini, penderita mampu membedakan wajah namun tidak mampu mengingatnya untuk waktu yang lama.

Kondisi neurologis yang menyebabkan prosopagnosia belum dipahami dengan baik. Satu teori menyebut bahwa kondisi ini merupakan suatu kelainan, kerusakan, atau gangguan pada gyrus fusiform bagian kanan otak. Ini merupakan bagian dari otak yang mengkoordinasikan sistem saraf yang mengontrol persepsi wajah dan memori.

Penelitian telah menunjukkan bahwa otak memproses gambar wajah dengan cara yang berbeda dengan ketika ia memproses gambar objek lainnya. Ada beberapa ketidaksepakatan dalam literatur ilmiah tentang apakah prosopagnosia adalah gangguan umum atau masalah spesifik pada wajah. Mungkin ada berbagai jenis dari prosopagnosia yang memiliki gejala lain selain kesulitan dengan pengenalan wajah.

Individu dengan prosopagnosia harus mempelajari cara lain untuk mengingat wajah. Petunjuk seperti rambut, suara, dan pakaian dapat membantu mengidentifikasi orang. Kecanggungan dalam situasi sosial karena prosopagnosia dapat menyebabkan seseorang menjadi pemalu dan menarik diri.

Banyak penderita melaporkan adanya gangguan saat menonton film dan acara televisi karena mereka tidak dapat mengidentifikasi karakter dari salah satu adegan yang mereka tonton. Para peneliti sedang bekerja untuk menemukan cara untuk membantu individu dengan prosopagnosia meningkatkan kemampuan pengenalan wajah mereka.

3. Presque Vu

Presque Vu adalah perasaan yang kuat kalau kamu akan mengalami epiphany. Epiphany sangat jarang terjadi. Presque Vu artinya “hampir melihat” dan sensasinya bisa sangat membingungkan dan aneh.

Presque Vu merupakan perasaan yang kuat bahwa kita akan mendapat petunjuk atau ilham tentang apa yang terlupa, namun tidak pernah datang. Dengan kata lain, seperti halnya ungkapan, “Kalimat yang serasa sudah diujung lidah”. Presque Vu dapat mengacaukan perasaan dan pikiran, serta seringkali membuat seseorang susah tidur.

Pernahkan anda ditanya oleh teman anda tentang suatu hal, lalu saat anda ingin menjawab anda lupa apa yang anda ingin katakan. Entah kenapa perasaan ini aneh sebab baru saja kata itu ada di otak anda, lalu saat mau diucapkan ia hilang atau bila tidak hilang sepenuhnya, anda merasa kalau kata itu sudah ada di ujung lidah, tapi tak bisa keluar.

Apa yang anda alami adalah fenomena Presque Vu atau lebih sering disebut Tip of tounge. Ini merupakan fenomena dimana seseorang mengalami kegagalan untuk mengingat sebuah kata dari ingatan kita dan mengeluarkannya, ditambah dengan perasaan dimana perlu untuk mengingat hal tersebut meskipun kita hanya mampu mengingat sebagian dari kata yang ingin diucapkan.

4. Fregoli Delusion

Fregoli Delusion adalah fenomena otak yang jarang terjadi, di mana seseorang mempercayai bahwa orang-orang yang berbeda, sesungguhnya adalah orang yang sama yang sedang menyamar. Hal itu sering dihubungkan dengan paranoid dan kepercayaan bahwa orang yang menyamar itu sedang berusaha untuk menganiaya dirinya. Kondisi itu diberi nama seperti aktor Italia, Leopoldo Fregoli yang terkenal dengan kemampuannya untuk merubah diri secara cepat selama penampilannya aktingnya.

Laporan pertama di 1927 dalam sebuah studi kasus pada seorang wanita berusia 27 tahun yang percaya dia sedang dianiaya oleh dua yang aktor yang sering dilihatnya di sebuah teater. Dia percaya kalau orang-orang ini “mengejarnya terus-menerus dengan berubah wujud seperti orang-orang yang dikenalnya

Gejala Sindrom Fregoli

Gejala-gejalanya sangat banyak, meliputi:

  • Episode delusi dan halusinasi.
  • Kurangnya memori visual.
  • Tidak dapat benar memantau diri.
  • Kurangnya kesadaran diri.
  • Ketidakmampuan untuk mengontrol perilaku dan melakukan pemikiran abstrak.
  • Episode epileptogenik.

Selain itu, pasien dengan sindrom Fregoli sering percaya bahwa orang-orang yang dekat dengannya, kerabat dan keluarga misalnya, sebenarnya menyamar sehingga terlihat seperti orang asing, dengan niat jahat. Trauma otak serius dapat menyebabkan sindrom Fregoli. Secara khusus, kerusakan pada daerah temporoparietal kanan ke depan atau kiri dari otak dapat membawa pada kekurangan dalam pemantauan diri dan penghambatan Fregoli disorder.

Selain itu, kerusakan atau cedera pada gyrus fusiform atau ke sisi kanan gyri temporal yang mungkin berhubungan dengan gangguan tersebut. Gyrilah yang mempertahankan kenangan dalam jangka panjang, dan khususnya berkaitan dengan ingatan wajah.

Studi tentang sindrom Fregoli, serta delusi sindrom kesalahan identifikasi lainnya, sangat banyak di garis depan penelitian medis, terutama sebagai jenis gangguan yang sering berkembang bersama penyakit mental lainnya seperti depresi dan skizofrenia.

Pengobatan Fregoli disorder memang ada dan sebagian besar memanfaatkan jenis obat-obatan antipsikotik serta obat antidepresan. Antidepresan trisiklik pernah sekali digunakan, meskipun akhirnya ditemukan sisi negatif efek pengobatan tersebut sehingga lebih sering melibatkan trifluperazine dan antidepresan modern seperti venlafaxine dan fluoxetine. Selain ini, obat antikonvulsan kadang-kadang diresepkan.

5. Apophenia

Disadari atau tidak, kita cenderung suka menghubungkan titik-titik, bukan? Kita juga cenderung percaya sesuatu terjadi karena sebab tertentu. Apakah itu situasi atau objek, selalu ada keinginan menemukan hubungan dan menyimpulkan sesuatu. Pada dasarnya, kita ingin menemukan pola dalam keacakan.

Imajinasi sedang bekerja ketika kita menatap langit dan melihat gambaran pola hewan pada awan. Ini bukan sesauatu yang buruk atau salah. Tapi, kadang-kadang bisa menyesatkan. Kecenderungan untuk menemukan pola ketika sebenarnya tidak ada, disebut apophenia.

Apophenia adalah fenomena yang terjadi dalam otak ketika seseorang melihat figur atau gambar disuatu pecahan atau pola yang random. Contohnya, ketika gunung merapi meletus muncul figur mbah petruk yang terbentuk dari formasi awan, atau ketika kita melihat guratan kayu yang membentuk raut muka. Jadi otak kita menganggap melihat sesuatu dan biasanya menghubung-hubungkan dengan kepercayaannya, padahal itu semua tidak ada dan hanya sebatas pola random tak beraturan.

Biasanya lebih banyak terjadi saat gelap, disekitar kegelapan, ternyata ada warna yang lebih gelap atau sedikit lebih terang, biasanya kita menggambarkan sesuatu yang menyeramkan terlihat. Pedahal itu hanya pola acak dari background gelap itu sendiri yang kita hubungkan dengan sesuatu yang seram dikarenakan ketakutan yang sudah merajai pikiran kita.

Kondisi ini berasal dari kenyataan bahwa manusia selalu mencari makna dalam kehidupan. Dengan kata lain, kita lazim percaya segala sesuatu terjadi karena suatu alasan. Ketika seseorang melihat pola meskipun tidak ada, hal itu disebut “false positive” atau “type I error” dalam konteks statistik.

Menurut psikolog evolusioner, apophenia bukanlah kesalahan dalam kognisi, melainkan terkait dengan rancangan otak. Kecenderungan mencari koneksi antara peristiwa yang tampaknya tidak berhubungan atau kecenderungan untuk mencari makna dari benda acak dapat membantu memperingatkan individu dari bahaya yang akan datang.

Dengan demikian, apophenia dan kecerdasan tampaknya berbanding terbalik. Kurangnya dominasi otak kiri diketahui berhubungan dengan skizofrenia. Bahkan, individu dengan skizofrenia paranoid melihat pola yang tampaknya mengarah pada kejahatan, meskipun sebenarnya tidak.

Jenis Apophenia

Terdapat beberapa tipe dasar apophenia, dengan pareidolia adalah jenis yang paling umum. Berikut adalah jenis apophenia:

  • Clustering illution: Ini adalah kecenderungan untuk percaya terdapat semacam pola dalam sampel yang benar-benar acak. Suatu keadaan yang muncul dari kecenderungan tidak mengakui adanya variabilitas dalam data.
  • Confirmation bias: Kondisi yang cenderung menganggap suatu asumsi tertentu adalah benar, alih-alih membuka peluang akan kemungkinan kesalahan.
  • Gambler’s fallacy: Mengacu pada asumsi bahwa sesuatu lebih mungkin terjadi karena belum pernah terjadi sebelumnya.
  • Pareidolia: Mengacu pada fenomena melihat berbagai bentuk atau wajah dalam objek apapun.

Kecenderungan untuk mencari sebab dan akibat berperan penting dalam kesuksesan dan kelangsungan hidup manusia. Sebagian besar waktu, kemampuan ini sangatlah berguna dan memungkinkan kita untuk memikirkan dengan hati-hati tentang cara kerja dunia. Namun, terkadang membuat kita melihat yang sebenarnya tidak ada.

Menurut seorang ahli ilmu saraf dari University Hospital ZurichPeter Brugger, apophenia dan kreatifitas merupakan dua hal yang hampir sama. Penelitian Brugger mengindikasikan bahwa kadar hormon dopamine yang tinggi mempengaruhi kecenderungan untuk mencari maksud, pola dan, arti yang sebenarnya tidak ada dan bahwa kecenderungan ini juga berhubungan dengan kecenderungan untuk percaya dalam dunia paranormal.

Fenomena tersebut dianggap adalah yang paling umum, alam pikiran manusia masih penuh misteri dan lebih banyak lagi yang belum diketahui. Maka dari itu demikianlah ulasan diatas, semoga artikel ini memberi manfaat serta pengetahuan yang baik bagi pembaca.